Indonesia Jajaki Bitcoin sebagai Aset Cadangan untuk Dorong Perekonomian

Indonesia menganggap Bitcoin sebagai aset cadangan untuk mendiversifikasi kepemilikan, melindungi inflasi, dan mengurangi ketergantungan pada mata uang fiat seperti dolar AS.
Soumen Datta
6 Agustus 2025
Daftar Isi
Indonesia sekarang sedang menjajaki penggunaan Bitcoin sebagai aset cadangan nasional, menurut BitcoinIndonesiaGagasan ini sedang dipertimbangkan untuk membantu melindungi perekonomian dari inflasi, mengurangi ketergantungan pada dolar AS, dan mendiversifikasi cadangan keuangan negara. Inisiatif ini didorong oleh kantor Wakil Presiden, menunjukkan bahwa topik ini telah mencapai tingkat minat yang tinggi dari pemerintah.
Proposal Strategis
Percakapan dimulai ketika perwakilan Bitcoin Indonesia, komunitas Bitcoin lokal terbesar, diundang untuk bertemu dengan staf khusus dari kantor Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurut sebuah postingan publik di X, Bitcoin Indonesia menjelaskan bagaimana Bitcoin dapat memperkuat posisi ekonomi bangsa.
"Ya, serius. [Indonesia] sedang menjajaki bagaimana Bitcoin dapat mendorong kekuatan ekonomi jangka panjang," tulis mereka dalam postingan tersebut.
Pertemuan tersebut juga mencakup dua bidang utama:
- Penambangan Bitcoin didukung oleh energi terbarukan
- Program pendidikan publik tentang Bitcoin dan blockchain
Mengapa Bitcoin?
Indonesia adalah negara terpadat keempat, dengan lebih dari 280 juta penduduk. Indonesia juga merupakan ekonomi terbesar ke-16 dengan PDB sebesar $1.4 triliun. Seiring meningkatnya ketidakstabilan keuangan global, negara-negara seperti Indonesia sedang mengevaluasi alternatif selain cadangan devisa fiat seperti dolar AS.
Berikut adalah alasan-alasan yang dikutip untuk mempertimbangkan Bitcoin:
- Diversifikasi cadangan: Menambahkan Bitcoin ke cadangan nasional dapat mengurangi risiko dengan menyebarkannya ke berbagai aset.
- Lindung nilai inflasi: Pasokan tetap Bitcoin dapat membantu melindungi daya beli selama periode depresiasi mata uang.
- Keunggulan sumber daya energi: Indonesia memiliki sumber daya energi hidroelektrik dan panas bumi yang besar yang dapat menggerakkan pertambangan berkelanjutan.
Meskipun manfaat-manfaat ini patut dicatat, Indonesia tidak sedang menghadapi krisis keuangan. Rasio utang terhadap PDB negara ini stabil di angka 39%, dan inflasi hanya 0.76% pada Januari 2025. Jadi, langkah ini bukan sekadar urgensi, melainkan lebih pada persiapan untuk perubahan jangka panjang.
Penambangan Bertenaga Energi Terbarukan Sedang Dibahas
Salah satu topik utama adalah pemanfaatan energi terbarukan Indonesia untuk penambangan Bitcoin. Bitcoin Indonesia mengusulkan agar Indonesia dapat mengubah energi panas bumi dan hidroelektriknya menjadi penggerak ekonomi. Model ini telah berhasil di negara lain, di mana penambangan menciptakan lapangan kerja lokal dan menarik investasi teknologi.
Pendekatan ini dapat:
- Ciptakan lapangan kerja lokal
- Menarik perusahaan pertambangan global
- Menghasilkan pendapatan pajak baru
- Mengurangi emisi karbon dibandingkan dengan sistem energi berbasis batubara
Dukungan untuk Pendidikan dan Pemahaman Publik
Diskusi tersebut juga menekankan edukasi Bitcoin. Para perwakilan mendesak pemerintah untuk berinvestasi dalam program edukasi publik yang berfokus pada:
- Apa itu Bitcoin
- Cara kerjanya
- Bagaimana warga negara dapat menggunakannya secara bertanggung jawab
Hal ini menunjukkan pandangan bersama bahwa memahami teknologi sama pentingnya dengan menguasainya.
Dana Kekayaan Negara Mungkin Membeli Bitcoin
Gabriel Rey, CEO Triv (bursa kripto berlisensi), dan Anthony Leong dari HIPMI (kelompok usaha pemuda nasional), mengusulkan agar Bitcoin dimasukkan ke dalam portofolio dana kekayaan negara Indonesia, BPI Danantara.
Badan yang diluncurkan pada Februari 2025 ini dibentuk untuk mengelola aset negara demi pembangunan jangka panjang. Rey dan Leong berpendapat bahwa jika Danantara mengalokasikan Rp300 triliun (sekitar $18.3 miliar) untuk Bitcoin, mereka dapat membeli sekitar 200,000 BTC.
Potensi investasi ini dapat:
- Perkuat cadangan jika harga Bitcoin naik
- Mengimbangi sebagian utang nasional dari waktu ke waktu
- Sejajarkan Indonesia dengan negara lain yang menambahkan Bitcoin ke kas negara mereka
Sekitar waktu yang sama, bursa kripto Triv mendapatkan investasi dari MEXC Ventures dengan valuasi $200 juta. Hal ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan di pasar lokal.
Tanggapan Pemerintah dan Regulasi
Tidak semua orang siap untuk bergerak maju. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menanggapi dengan hati-hati. Meskipun terbuka untuk berdiskusi, mereka menekankan perlunya regulasi yang jelas dan tata kelola yang kuat.
Masalah Bitcoin sebagai cadangan nasional masih dalam pertimbangan, dan belum ada kebijakan formal yang diadopsi.
Perlu dicatat, baru aturan pajak kripto diperkenalkan pada tanggal 1 Agustus dapat memengaruhi aktivitas pengguna:
- Pengguna pertukaran mata uang domestik kini menghadapi Pajak 0.21%, naik dari 0.1%
- Pengguna yang melakukan perdagangan di bursa valuta asing menghadapi Pajak penjual 1%, naik dari 0.2%
- Penambang kripto sekarang membayar PPN 2.2%.
- Spesial pajak penambangan 0.1%. akan dihapus pada tahun 2026 dan digantikan dengan pajak penghasilan standar
Perubahan pajak ini bertujuan untuk memformalkan industri tetapi dapat meningkatkan biaya bagi pedagang eceran dan penambang.
Rencana Perbendaharaan BTC DigiAsia Corp
Perusahaan swasta juga mengikuti tren ini. DigiAsia Corp, yang terdaftar dengan ticker FAAS di Nasdaq, mengumumkan berencana untuk memperlakukan Bitcoin sebagai aset cadangan kas.
Strateginya meliputi:
- Mengumpulkan hingga $100 juta untuk mulai membeli BTC
- Mengalokasikan hingga 50% laba bersih untuk pembelian Bitcoin
- Menjelajahi perolehan hasil melalui pinjaman atau staking
Pengumuman tersebut menyebabkan saham DigiAsia melonjak 91% dalam satu hari, meskipun harganya dengan cepat turun setelah jam kerja.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apakah Indonesia mengadopsi Bitcoin sebagai aset cadangan?
Belum. Gagasan ini sedang dibahas di tingkat pemerintahan tinggi, termasuk kantor Wakil Presiden, tetapi belum ada kebijakan resmi yang diumumkan.Mengapa Indonesia mempertimbangkan Bitcoin untuk cadangan nasionalnya?
Indonesia bertujuan untuk mendiversifikasi cadangan devisa, melindungi nilai inflasi, dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Indonesia juga melihat potensi pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung penambangan Bitcoin.Apa peran BPI Danantara dalam proposal ini?
BPI Danantara, dana kekayaan negara Indonesia, telah diusulkan sebagai pembeli potensial Bitcoin untuk mengelola aset negara dan mendukung pembangunan ekonomi jangka panjang.
Kesimpulan: Kemampuan, Bukan Hype
Ketertarikan Indonesia terhadap Bitcoin sebagai aset cadangan merupakan langkah strategis yang terukur. Fokusnya adalah pada:
- Diversifikasi ekonomi
- Pemanfaatan energi terbarukan untuk pertambangan
- Edukasi publik
- Partisipasi institusional melalui dana kekayaan negara dan perusahaan swasta
Ini bukan keputusan yang terburu-buru atau emosional. Dengan kondisi makroekonomi yang stabil, negara ini sedang menjajaki potensi Bitcoin—bukan mempertaruhkan masa depannya pada aset tersebut, melainkan mempertimbangkan bagaimana Bitcoin dapat disesuaikan dengan strategi keuangan yang lebih luas.
Sumber:
Pengumuman DigiAsia: https://www.newsfilecorp.com/release/252493/DigiAsia-Launches-Bitcoin-Treasury-Reserve-Strategy-Exploring-Up-to-US100-Million-Capital-Raise-to-Acquire-BTC
Data Penduduk Indonesia: https://unstats.un.org/UNSDWebsite/capacity-development/data-for-now/story-details/First-Indonesian-vital-stat-report-powered-by-administrative-data
Laporan kenaikan pajak kripto terbaru di Indonesia: https://www.reuters.com/sustainability/boards-policy-regulation/indonesia-raise-tax-rate-crypto-transactions-2025-07-30/
Penolakan tanggung jawab
Penafian: Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini tidak selalu mewakili pandangan BSCN. Informasi yang diberikan dalam artikel ini hanya untuk tujuan pendidikan dan hiburan dan tidak boleh ditafsirkan sebagai nasihat investasi, atau nasihat dalam bentuk apa pun. BSCN tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi apa pun yang dibuat berdasarkan informasi yang diberikan dalam artikel ini. Jika Anda yakin bahwa artikel tersebut harus diubah, silakan hubungi tim BSCN melalui email [email dilindungi].
Pengarang
Soumen DattaSoumen telah menjadi peneliti kripto sejak 2020 dan meraih gelar magister Fisika. Tulisan dan penelitiannya telah dipublikasikan oleh berbagai publikasi seperti CryptoSlate dan DailyCoin, serta BSCN. Bidang fokusnya meliputi Bitcoin, DeFi, dan altcoin berpotensi tinggi seperti Ethereum, Solana, XRP, dan Chainlink. Ia memadukan kedalaman analisis dengan kejelasan jurnalistik untuk memberikan wawasan bagi pembaca kripto pemula maupun berpengalaman.



















